Namanya : Shiro

Seminggu.
Waktu yg diberikan oleh Shiro kepada keluargaku untuk memelihara dia.
Dengan kasih sayang, dengan omelan-omelan (karena dia jarang mau makan dan minum susu), dengan pertengkaran (karena suami yang nggak suka dengan makhluk yang satu itu !)

Ditemukan mama dengan kondisi sangat mengenaskan…
Kulit yang terkelupas, ekos yang nyaris putus, daging kaki yang tersayat…
Langkah jalannya yang gemetar…
Semalaman merintih, tertindih tong sampah yang penuh dan berkarat. Pekerjaan anak-anak kecil kampung sebelah komplek kami…

Shiro. Nama yang diberikan mama. Karena kulitnya yang putih. Apalagi, saat sudah dibasuh dengan tissue basah milik Asha. Putih, sempurna.

Weekend yang lalu, dihabiskan oleh Tiwi dan adik-adik membersihkan lukanya.
Dengan alkohol, merendamnya bagian kaki dan pantatnya dengan Betadine. Membuat dia meronta-ronta kesakitan sepertinya.
Kalo’ tiwi bilang, dia menderita alzheimer :D Kalo’ pengasuh Asha lebih pintar sepertinya, katanya, mungkin tetanus… Makanya seluruh badannya selalu gemetar…

Setelah diobati, dia tidur dengan nyenyak di atas karung semen di taman kami yang terik, dan di sore harinya sudah bisa makan dengan lahap. Whiskas, yang dibelikan oleh tanti. “Ada sistem immunitasnya, katanya. Biar Shiro cepat sembuh.” Tidak mau yang lain.
Bahkan makanan Asha maupun susunya.
Manja sekali kamu, Shiro…

Seminggu bersama Shiro, tiwi seakan bisa merasakan perasaan orang tua yang anaknya sedang berjuang di inkubator, atau berjuang di rumah sakit…
Setiap pulang kantor, rasanya deg-degan jika harus mendengar kabar bahwa Shiro tidak mampu bertahan. Walaupun melihat usaha dia selama ini, kami yakin, dia adalah makhluk kecil yang tangguh.
Senang rasanya kalau ketika pulang, masih bisa mendengar suaranya. Nyaring. Mencari perhatian…

Asha pun bisa menandai keberadaan Shiro.
Jika ditanya, “Sha, meong…meong…”
Yang biasanya dia membalas dengan : “Pus…pus…”
sekarang dia akan menyahut, “Shiyyyoooooooo…”

Siang ini, saat akan pergi makan siang. Ada berita mengejutkan. Shiro meninggal.
Tadinya tiwi stress, karena dari kemarin persediaan Whiskas dia habis, dan semalam tiwi lupa membelikan. Tiwi takut, dia mati karena kelaparan…
Tapi kata mama, dia mati dengan cara lain. Keserempet mobil kami. Saat Asha minta main mobil di halaman bersama papanya.
Shiro meninggal.
Meninggalkan kami semua… Dengan luka yang masih ada di badan dia, dan luka yang tiba-tiba ada di perasaan kami.

Selamat jalan, Shiro. Sobat kecil kami yang tangguh.

3 Responses to “Namanya : Shiro”

  1. Hiks…hiks…hiks… kaya’nya salah deh kl cuma hiks…hiks…hiks… doang :( nyi maunya huaaaaa…hua……hua…. hua… nangis keras meraung raung ….
    ya karna nyi salah satu pecinta kucing. nyi dah pernah merasakan ko mba gimana rasanya ditinggal ma kucing kesayangan kita :( ya waktu itu sama ceritanya ma shiro, bedanya kalo si “Pusi” ditemuin ma kakak nyi. dia lebih mengenaskan lagi mba meninggalnya :( di racun orang kaya’nya karna di mulutnya keluar busa gitu :( padahal “Pusi” dah sampe sumatra loh mba nyi bawa waktu mudik, karna saking takutnya “Pusi” ga ada yang merawat :( jadi nyi bisa merasakan yang mba tw rasakan saat ini. karna nyi lebih parah mba ga mau masuk sekolah seminggu hihihihi… berduka cita :) so tetap semangat ya mba tuk tetep sayang ma kucing. :)

  2. i know exactly how it feels wi..
    huhuhuhuu..
    sedih bgt!
    turut bduka cita ya wi..

  3. Hiks, sedihnya..

    Saya pecinta kucing, tapi cuma bisa menyayangi kucing tetangga. dari kecil nggak boleh miara kucing padahal sukaa bnaget. sampe sekarang keterusan nggak miara, cuma menyayangi dari jauh, hiks..

Leave a Reply

Currently you have JavaScript disabled. In order to post comments, please make sure JavaScript and Cookies are enabled, and reload the page.

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>