Memoar tentang Seorang Temanbaik

Rini Dwi Agustini. Anak kedua dari 3 bersaudara. Satu-satunya perempuan. Wajar, kalo’ Enie, begitu dia membahasakan dirinya, menajadi pibadi yang manjaaaa sekali.

Kami pertama kali bertemu di pembagian ruangan kamar, STT Telkom. F-209. Itu kamar kami. Berbagi dengan 6 orang lainnya. Berpisah dengan orang tua ?! Sangat menyedihkan…

Apalagi untuk anak seperti aku dan Enie. Dua anak manja yang belum pernah jauh dari rumah… Akibatnya ?!
Bertemu di wartel untuk menelepon interlokal adalah hal yang biasa… :-)

Keluar dari asrama, kami berdua pula yang bersikukuh untuk mengontrak rumah (plus mencari pembantu) agar hidup kami tak jauh dari kenyamanan di rumah asal :D Jadilah, waktu itu, 5 dari 8 orang penghuni kamar asrama, berpindah ke sebuah rumah bertingkat dua, SKB 36 A.
Enie di lantai 1 bersama Dhe2n. Aku di lantai 2 bersama Irma dan Shanti.
Episode menjadi anak kontrakan benar-benar memberi warna dan cerita-cerita seru. Apalagi, lagi-lagi, bagi kami berdua. Enie yang bergabung dengan ekstrakurikuler SWS, khusus warga Sunda, dan aku yang akrab dengan penghuni gedung C angkatan atas. Membuat kontrakan kami bisa dibilang tidak pernah sepi pengunjung. apalagi di waktu malam.Selalu saja ada yang bertamu…

Setahun hidup bersama, masih teringat banyak sekali kekonyolan yang kami alami. Berlima. Aku sebagai ayah di kontrakan. Irma sebagai Ibu. Dan anak-anak, Shanti, Dhe2n dan Enie sebagai si Bungsu.
Terlambat bangun untuk kuliah, mengerjakan laporan praktikum dengan mesin ketik manual, menyetel kaset Dewa - Kirana atau ME - Kasih Putih… senantiasa membuat hidup kami benar-benar berwarna.

Logat sunda dan cara berbicaranya yang manja, benar-benar menjadi trademark seorang Enie.
Jangan dekat-dekat dengannya dan Dhe2an saat hendak ujian. Caranya menghafal yang selalu menimbulkan suara-suara, sangat tidak cocok dengan cara belajarku yang butuh keheningan, kecuali suara radio.

Setahun, 1996-1997, lantas kami berpisah. Rumah kontrakan kami mau dijual. Terpaksa menyebar. Tapi karena masih dalam lingkungan yang sama, persaudaraan tetap terjalin. Apalagi kebersamaan selama setahun benar-benar sudah membuat kami bagaikan saudara sekandung. Tak ada yang kami lewatkan…
Pernikahan kakaknya di Tasikmalaya, prosesi Geladi yang Enie habiskan dengan menginap di rumahku karena mengambil area yang sama, Jakarta, orang tua yang (masih saja) rutin menengok walau kami sudah lama di rantau….

Enie, setelah lulus, tetap saja ikatan itu masih ada. Dia kerja pada institusi yang merupakan mitra tempat kerjaku. Tentu saja, pertemuan masih tetap berlanjut. Bahkan saat dia mengabarkan akan ikut ke Oman, menemani sang suami, kami berempat (Shanti di Surabaya) masih mengatur pertemuan di bandara. Walau akhirnya gagal karena jadwal pesawat yg dipercepat.

Balik kembali ke Indonesia karena tidak betah di negeri orang, Enie menjadi orang pertama di alumni 36A yang mampu memiliki sebuah rumah, dan mengadakan selametan, mengundang kami semua. Bahagia rasanya melihat kebahagiaan keluarga mereka… Anak kecil yang sehat, rumah yang berdiri kokoh…

Mungkin itu pertemuan terakhir Enie dan aku…
Kalau hanya lewat media maya… saat Asha lahir pun kami masih berhubungan.
Sampai tadi pagi…

Sebuah jendela YM menyapa :

Lukluk (10:00:58 AM): mba tiwi
TW . (10:01:03 AM): yes
Lukluk (10:01:05 AM): memang ada anak 96 yg meninggal?
TW . (10:01:12 AM): heh ? sapa ?
Lukluk (10:01:13 AM): namanya rini dwi?
TW . (10:01:16 AM): blon ada di milis luk
TW . (10:01:23 AM): rini dwi ?
Lukluk (10:01:30 AM): itu bang hendri nanya aku
TW . (10:01:32 AM): anak apaan ?
TW . (10:01:52 AM): blon ada di milisku sih
TW . (10:01:56 AM): sik aku tanya2 YM dulu
TW . (10:02:02 AM): rini dwi lak rini rumahku
TW . (10:11:05 AM): kalo’ 96 yg namanya rini pake’ dwi cuma satu itu…

Sumpah… hati yang tadinya tenang karena dirasa tidak mungkin ada kabar tentang seorang Rini (apalagi Rini - 36A) yang tidak tiwi ketahui… plus, beberapa jendela YM konfirmasi kepada teman seangkatan yang mengaku tidak mendengar kabar apa-apa… menjadi dag-dig-dug saat tiwi menghubungi seorang teman yang bekerja di kantor yang sama dengannya.

“Iya wi, Rini meninggal kemarin sore jam 4 di Mitra Keluarga, Jatinegara.”

Sedih, marah, bingung, menumpuk jadi satu… Teman kantor. Menyaksikan saat sakitnya. Apalagi yang membuat dia tidak bisa dipercaya.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun…
Sakit sejak Oktober 2006. Meninggal Desember 2006. Berpindah dua rumah sakit. Meninggal di RS Mitra Keluarga, Jatinegara. Dimandikan di rumah duka di Pondok Bambu.
Rumah tiwi dimana ? Pondok Gede…
15-20 menit menuju rumahnya atau rumah sakitnya. Tiap pagi melewati saat berangkat kerja.

Dan tiwi nggak tau itu semua ?! Gosh ! It hurts so very…very bad…

Satu hal yang bisa tiwi lakukan. Memberitahukan kabar ini kepada seluruh penghuni asrama dan SKB 36A serta kost-kost-an Enie terakhir. Meminta do’a kepada semua…

Nie, maafin tiwi yaa… :-(

(Akhir Desember 2006)

2 Responses to “Memoar tentang Seorang Temanbaik”

  1. hi.khikhikhijk
    gw sedih bacanya m’ba… semoga tenang yah disana arwah temen mba..amin
    salam kenal -riza-

  2. mbak, sakit apa temannya?turut berduka cita yah.

Leave a Reply

Currently you have JavaScript disabled. In order to post comments, please make sure JavaScript and Cookies are enabled, and reload the page.

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>