Bagaimana Kalian Ingin Dikenang ?
Posted: December 30th, 2009 | Author: temanbaik | Filed under: A Thought, Family, Personal | Tags: Asha, kebiasaan, keluarga, kenangan | 2 Comments »Sudah mau tahun baru lagi…
Biasanya kalo’ mau tahun baru, banyak orang, banyak media yang mengenang dengan cara mengulas kejadian-kejadian yang sudah lalu.
Bicara tentang mengenang, saya semalam tersenyum sambil membaca buku Bara Patiradjawane yang membicarakan kenangan dia tentang neneknya. Tentang kegemaran sang nenek memasak, kegemaran sang nenek mengumpulkan buku-buku resep yang kemudian menurun utuh ke dirinya. Diceritakan olehnya dalam satu tulisan kolom yang menyenangkan untuk dibaca.
Pagi ini, seperti biasa juga dibuka dengan membaca Kompasiana. Membaca artikel Bapak Chappy Hakim, ditulis juga tentang kenangan atas sang ayah yang diingat olehnya, dan oleh sahabat almarhum.
Tiwi sendiri, kalau sedang melamun, suka mengenang masa kecil dimana mama selalu menyambut kami pulang sekolah dengan masakannya yang berganti-ganti, membuatkan kami camilan-camilan sehat untuk “tea time” di sore hari atau saat ada teman-teman yang datang untuk belajar bersama di rumah; mengenang saat-saat kebersamaan kami malam hari mendiskusikan PR yang diberikan di sekolah; mengenang piknik-piknik kami di banyak tempat yang selalu disempatkan oleh mama dan papa untuk tetirah…
Jadi terfikir…
Seperti apa nanti Asha dan adik-adiknya akan mengenang tiwi sebagai mama-nya.
Pengen deh, Asha mengenang saya sebagai mama-nya yang selalu menyempatkan membuatkan bekal sekolah dan makanan tiap hari-nya yang dia pilih sendiri di malam sebelumnya. Dengan menu favorit semacam nasi goreng dan muffin yang berulang kali diminta. Bahkan proses memilih menu dengan membawa buku-buku resep dan duduk di sofa pun, inginnya menjadi saat yang menyenangkan untuk dikenang oleh dia.
Atau mungkin, Asha akan mengenang kebersamaan kami di dapur saat mengocok kue dan bersama-sama rebutan adonan sisa adonan dari bowl dan buru-buru menjilatinya hingga celemotan di muka kami… Pasti menyenangkan dikenang untuk momen-momen seperti itu.
Mungkin juga dia akan mengenang kebiasaan kami tiap malam untuk bernyanyi sambil bertepuk tangan dan meloncat-loncat di tempat tidur, lalu ditutup dengan menghapalkan doa-doa dan surat-surat pendek atau membaca buku-buku ceritanya (dan bahkan kadang justru gambar di majalah tiwi yang dibahas oleh kami)…
Jika diberi umur panjang, kami mungkin akan bersama-sama melewati beberapa masa lagi dalam kehidupan di masa depan. Asha bertambah besar, tiwi bertambah tua.
Yang pasti, tiwi punya niat ingin dikenang oleh anak-anak saya sebagai, kalau kata film Sang Pemimpi : “orang tua juara satu di dunia”.
Bukan dengan barang-barang terbaik yang memang selalu tiwi dan erwin usahakan untuk bisa berikan kepada mereka, bukan dengan materi yang memang sedang kami siapkan dengan sungguh-sungguh untuk masa depannya;
Tapi dengan saat-saat istimewa dalam kehidupan kami, momen-momen yang kami bagi bersama, kebiasaan-kebiasaan yang cuma kami yang memilikinya….

ini asha, dan sisa adonan kue profesional pertama kami...
Tiwi yakin, yang seperti itu akan lebih menyenangkan untuk dikenang. Sampai kapanpun.
Akhir Tahun 2009.
(Tulisan ini bukan resolusi untuk tahun depan. Tapi untuk selamanya.
Semoga.)






wiiii… ati2 … itu telor masih pada mentah kaaan …
selamat tahun baru yaaaaaaaaaaa…..