All About Mudik (1)
Masuk Ramadhan, sebentar lagi Syawal.
Tahun ini adalah tahun yang boleh dibilang menjadi tahun petualangan bagi Ramadhan Tiwi. Gimana nggak… setelah nyaris 20 tahun nggak kenal yang namanya MUDIK (sejak Mbah Akung dr pihak papa meninggal di tahun 1991, tiwi setia menjadi penjaga JKT di saat Lebaran…) tahun ini Tiwi akan menjalani ritual, yang buat orang Indonesia, akrab dengan bulan Ramadhan dan Syawal !! Pheewww…
Jauh-jauh dr Tiwi yaa komentar yang mempertanyakan, “Udah tau bakal ribet kalo’ mudik pas Lebaranan, kenapa juga nggak mudik di lain hari ajah” yaa… Karena jujur, sampai saat ini Tiwi juga masih bertanya-tanya masalah itu… Kek gak ada bulan selain Ramadhan/Syawal ajah yaa buat silaturahmi…
Maklum, gede di JKT, Alhamdulillah kalaupun waktu di kampus kudu ngalamin yg namanya mudik, tapi justru ngelawan arus… (meskipun setahun sekali dulu selalu minta jatah Argo Gede ke papa sih… Hihihihi…)
Balik ke mudik. Karena ini mudik pertama, persiapannya juga sudah jauh-jauh hari. Yaa gimana nggak, biasanya jadi penonton keramaian yg terjadi di stasiun atau airport, tetapi kali ini harus menjalani… Gimana nggak stress… Takut kualat :p Karena biasanya cuma jadi penonton dan komentator pas nonton tipi
Persiapan ke-1 : TIKET
Thanks to online technology…
Urusan tiket, Tiwi nggak mau gambling. Sejak bulan April 2008, sudah mulai berburu tiket-tiket pesawat secara online. Airasia dan Mandala jadi alternatif utama. Tetapi beberapa kali punya pengalaman delay dengan Airasia di bandara Juanda, akhirnya diputuskan mengambil Mandala. Mudah-mudahan nggak delay yaa… Karena mudik kali ini, ada anak kecil yang ikutan nih…
Masalah tiket-tiketan ini juga berbuntut… Dari yg hanya memesan 2 tiket adult untuk Tiwi & Erwin dan 1 infant untuk Asha; dengan pertimbangan, Asha masih 24-bulan saat keberangkatan, sesuai dengan peraturannya kan… Tetapi di akhir-akhir menjadi berubah dengan menambah 1 tiket adult lagi untuk Asha.
Maklum, anak itu tingginya melebihi normal anak-anak seusianya. Takut ajah kalo’ nggak dipercaya dan ujung-ujungnya akan dipersulit di bandara. Apalagi Lebaran gitu, penuh tho pastinya…
Ya sudahlah… rejekimu yah, Nak. Pas banget ada rapelan kenaikan gaji di kantor
(emang juga dibilang, enak tho hidup pas-pas-an… :p)
Urusan tiket beres. Untuk keluarga kami… :p Alhamdulillah…
Masalahnya, ada 2 asisten yang menjadi tanggungan kami. Dan apalagi untuk mereka, momen lebaran mah sudah pasti jadi waktu mereka pulang kampung… Sekali setahun.
Asisten-1, DONE. Karena ada kakak-nya di JKT. Jadi urusan tiket ditanggung kakak-nya. Tinggal re-imburse saja ke Tiwi nantinya…
Asisten-2, RIBET. Huhuhuhu… cobaan bgt dah…
Nih Asisten dulunya ikut keluarga Erwin. Ruamhnya depan belakang sama ibu. Artinya, satu lingkungan dengan tujuan mudik Tiwi, kan ?! Tapi paraahhh… nggak mau diajak naik pesawat ! Padahal kan enak buat Tiwi, tinggak klak-klik. Nggak mau tapi dianya. Mau dipaksain dipesankan, takutnya nanti pas mau take-off malah jejeritan nggak karu-karuan. Kan repot… Sampe’ kepikiran mau suntik bius dia dulu tadinya
Terinspirasi film The-A-Team.
Sang asisten memilih naik bus. Tapi Tiwi & Erwin nggak tega. Memikirkan kemacetan dan keribetan di terminal saja sudah membuat kami pusing.
Akhirnya diputuskan naik Kereta Api. Dan hambatannya adalah ?! Tentu saja proses pemesanan tiket. Tau sendiri KAI, rawan calo !!
Strategi disusun. Karena nantinya dia akan se-mobil kembali bersama kami di SBY menuju Bondowoso (BDWS) yang berjarak tempuh 5-6 jam perjalanan dengan mobil. Artinya, KA yang dipilih harus H-1 dari keberangkatan kami. Jadilah, sejak sebulan sebelum pemesanan dibuka (H-30 adalah tenggat KAI untuk pemesanan). Hubungan dengan para Office Boy kantor pun dibuka… ![]()
Tiwi nggak mau mengandalkan hanya 1 jalan saja untuk memperoleh tiket. Kasian asisten kalo’ sampai nggak dapat… Sehari-hari dia sudah mau dititipkan penjagaan Asha, mosok masalah nyari tiket saja sampe’ nggak berhasil.
Akhirnya, pada hari H pemesanan, 2 tiket didapat…
Means, masalah baru buat Tiwi… Menjual 1 tiket sisa. YM jadi andalan :p
Alhamdulillah, nggak sampai setengah hari sudah dapat pembeli. Yaa gimana nggak, untuk hari keberangkatan asisten, katanya harga tiket di Gambir (di tangan calo) sudah mencapai 700rb !! Edan…
Walaupun sempat beberapa kali sakit hati karena dibilang calo lebaranan juga. Huhuhuhu… :p
Kalo’ kata teman-teman di sini, Tiwi terlalu baik. Mau bersusah payah mencarikan dan direpotkan masalah tiket asisten. Seharusnya biar saja mereka yg mencari cara untuk pulang…
Taelah, kalo’ cara itu Tiwi jalankan, Tiwi yakin tuw asisten sampe’ ke Gambir ajah nggak deh kaya’nya… Secara daya jelajahnya cuma sampai Pasar Pondok Gede. Lhaa, gimana mau sampai ke BDWS :p
Gpp lah yaaa, itung-itung mempermudah urusan hamba Allah-lah… Dulu juga asisten mama malah biasanya diantar papa ke rumahnya. Kami sekeluarga berkendara mobil. Saking nggak punya kampung tuw kami ! Pengen ikut-ikut yg namanya mudik :p
Urusan tiket DONE. (To Be Continued)









Sep 8th, 2008 at 5:45 pm
hehehe… jujur aja, ei ga setuju kalo direpotkan masalah tiket asisten dibilang terlalu baik. Untuk wanita2 amphibi kayak kita gini, ngurus keluarga dan kerja, asisten yang bisa diandalkan tuw mesti di maintain, secara skrg cari asisten hmmmm …. ga usah diceritain deh …
Sep 16th, 2008 at 12:30 pm
asisten ikut gw semua, soalnya searah jalan. hehehe