Mencari Empati di Dunia Maya

Posted: November 12th, 2009 | Author: temanbaik | Filed under: A Thought, Friendship, Personal | Tags: , , , | No Comments »

Udah lama nggak nulis yang “sedikit” serius yaa ?! :D Gara-gara belakangan ini punya bacaan baru Kompasiana *hi guys…*, jadi terusik untuk nulis rada serius kali ini… :D

Cerita-nya… sekitar sebulan yang lalu, Cerita tentang Puri jadi topik yang sangat heboh di Kompasiana. Jadi ada di “rumah virtual” itu, ada seseorang yg memiliki account bernama “Puri” dan memiliki blog.
Puri ini masih berstatus mahasiswa. Masih muda kan artinya ?! Dan, dia memiliki blog yang menceritakan kehidupan dia sehari-hari bersama sahabat baru-nya, yaitu penyakit kanker.
Ada sekitar 4-5 posting yang dia tulis tentang penyakitnya, tentang bagaimana dia menyikapinya, tentang keluarganya… Sampai akhirnya dia diberitakan meninggal melalui sms yang dikirim melalui sesama penghuni Kompasiana.

Blog-nya dalam waktu singkat (dengan postingan belum mencapai 10 postingan bisa dibilang singkat kan ?), menuai banyak simpati dari pengunjung maupun sesama penulis di Kompasiana.
Salah satunya, adalah Tiwi sebagai pengunjung tetap :D
Membaca postingannya membuat saya merasa banyak-banyak bersyukur karena diberi nikmat sehat yang luar biasa oleh Allah. Dan juga merasa sedih karena anak seusia itu sudah harus merasakan sakitnya “kanker” yang katanya “luar biasa”, juga merasa lega karena pada akhirnya dia meninggal, yang artinya nggak lagi kesakitan, tho ?!
Selama mengikuti tulisannya, tiwi teringat seorang teman sekolah yang juga sedang berjuang melawan kanker-nya dengan semangat yang luar biasa *hai, Sar ! cepet sembuh yaa !*

Belakangan, diketahui bahwa tokoh “Puri” yang selama ini menuliskan kisah-kisah itu adalah rekaan semata. Ditulis oleh orang (atau banyak ?) yang sedang mengikuti perlombaan “Daun Muda” *kenapa yaa nama perlombaannya juga aneh gitu ? :-? *

Bisa dibayangkan marah-nya para simpatisan kisah “Puri” tersebut nggak ?! Betapa merasa tertipunya kami semua… Oleh seseorang yang bahkan mungkin sudah dianggap sebagai “saudara baru”.
Tapi apakah benar kami pantas untuk marah ?! Toh “Puri” tidak pernah mengemis apa-apa selama menuliskan postingannya.

Memikirkan apakah layak atau tidak kami semua marah dengan cerita rekaan tersebut, Tiwi membayangkan kondisi saat tsunami Aceh tahun 2005 dulu. Dulu (sampai sekarang juga sih) bergabung dalam komunitas Blogfam. Saat tsunami itu, kami mengetahui bahwa salah seorang anggota keluarga Blogfam juga turut menjadi korbannya.
Begitu mengetahui hal tersebut, dalam waktu sangat singkat, kami bersama-sama menggalang sumbangan dana. Tidak tanggung-tanggung, karena kami adalah komunitas berbasis dunia maya yang letaknya ada hampir di seluruh dunia, transferan langsung masuk dari mana-mana… Nyaris tanpa pertanyaan, nyaris tanpa praduga apapun.
Saat sudah terkumpul cukup banyak, kami langsung saat itu juga mentransfer ke rekening tabungan teman kami yang berada di sana untuk digunakan pindah saat itu juga ke Pulau Jawa.

Benang merahnya adalah…
Apakah saat itu kami sudah pernah bertemu dengan teman kami yang berada di Aceh tersebut ? Belum.
Apakah kami melakukan cross-check sebelumnya bahwa benar teman kami terkena bencana itu ? Tidak juga.
Apakah kami melakukan tindakan bodoh ? Untungnya tidak :D

Sepertinya, iklim bertetangga di dunia maya, dalam kasus seperti ini tiwi persempit menjadi blog dan forum khususnya) memang sudah sedemikian rupa membuat empati lebih cepat terlihat terbangun dibandingkan hidup di dunia nyata. Kenapa ?
Kalo’ kemarin yg terlintas di benak tiwi adalah, emang ada gitu orang jahat yang niat banget menipu, atau membohongi dengan bersusah payah membuat account blog, membuat postingan atau melakukan registrasi ke forum, bersahut-sahutan di dalamnya ?
Ternyata dengan adanya kasus “Puri”, jawabannya : ada tuh ! Hehehehe
Mungkin memang pencipta tokohnya tidak jahat pada awalnya. Tetapi dia salah memanfaatkan komunitas sebesar Kompasiana untuk menciptakan tokoh fiktif yang memang diniatkan untuk merebut simpati sebagai salah satu syarat untuk mengikuti lomba itu.
Siapapun yang bergabung ke dalam komunitas, apalagi seperti Kompasiana, pasti dengan tujuan yang baik dan memang (mudah-mudahan) merupakan orang baik-baik.

Empati yang terbangun, pun hanya dengan tulisan, di dunia maya saat rentan untuk disalah gunakan. Karena hidup berdampiangan di dunia maya, memang hanya bermodalkan kepercayaan, kan ?! :D

Bayangkan kalo’ misalnya pencipta karakter tersebut juga memanfaatkan untuk mencari dukungan material berupa pembukaan transferan urunan dana untuk “Puri”. Tiwi yakin hari itu juga saat kabar kematian “Puri” didengar, rekening tersebut akan menerima transferan dari banyak orang yang memang tulus ikut berempati.

Kemarahan banyak orang akan kasus ini memang wajar menurut tiwi. Dimana-mana kebohongan memang tidak akan pernah bisa ditolerir. Apalagi yang berpeluang menjadi sebuah kasus yang berbentuk penipuan material seperti ini…

Tapi apakah kejadian seperti ini akan membunuh empati bertetangga di dunia maya ? Mudah-mudahan tidak yaa… Karena empati biasanya hanya dimiliki oleh orang baik-baik. Dan kalo’ empati hilang perlahan-lahan, tidak enak kalo’ juga harus membayangkan orang baik juga akan berkurang dan bukannya bertambah… :-(

Duh, semoga besok-besok tidak akan ada lagi orang yang memanfaatkan kebaikan orang lain untuk kepentingannya sendiri yaa… Di dunia maya, apalagi di dunia nyata. Amiiinnn…


Memoar tentang Seorang Temanbaik

Posted: March 8th, 2007 | Author: temanbaik | Filed under: Friendship, Personal | 2 Comments »

Rini Dwi Agustini. Anak kedua dari 3 bersaudara. Satu-satunya perempuan. Wajar, kalo’ Enie, begitu dia membahasakan dirinya, menajadi pibadi yang manjaaaa sekali.

Kami pertama kali bertemu di pembagian ruangan kamar, STT Telkom. F-209. Itu kamar kami. Berbagi dengan 6 orang lainnya. Berpisah dengan orang tua ?! Sangat menyedihkan…

Apalagi untuk anak seperti aku dan Enie. Dua anak manja yang belum pernah jauh dari rumah… Akibatnya ?!
Bertemu di wartel untuk menelepon interlokal adalah hal yang biasa… :-)

Keluar dari asrama, kami berdua pula yang bersikukuh untuk mengontrak rumah (plus mencari pembantu) agar hidup kami tak jauh dari kenyamanan di rumah asal :D
Jadilah, waktu itu, 5 dari 8 orang penghuni kamar asrama, berpindah ke sebuah rumah bertingkat dua, SKB 36 A.
Enie di lantai 1 bersama Dhe2n. Aku di lantai 2 bersama Irma dan Shanti.
Episode menjadi anak kontrakan benar-benar memberi warna dan cerita-cerita seru. Apalagi, lagi-lagi, bagi kami berdua. Enie yang bergabung dengan ekstrakurikuler SWS, khusus warga Sunda, dan aku yang akrab dengan penghuni gedung C angkatan atas. Membuat kontrakan kami bisa dibilang tidak pernah sepi pengunjung. apalagi di waktu malam.Selalu saja ada yang bertamu…

Setahun hidup bersama, masih teringat banyak sekali kekonyolan yang kami alami. Berlima. Aku sebagai ayah di kontrakan. Irma sebagai Ibu. Dan anak-anak, Shanti, Dhe2n dan Enie sebagai si Bungsu.
Terlambat bangun untuk kuliah, mengerjakan laporan praktikum dengan mesin ketik manual, menyetel kaset Dewa – Kirana atau ME – Kasih Putih… senantiasa membuat hidup kami benar-benar berwarna.

Logat sunda dan cara berbicaranya yang manja, benar-benar menjadi trademark seorang Enie.
Jangan dekat-dekat dengannya dan Dhe2an saat hendak ujian. Caranya menghafal yang selalu menimbulkan suara-suara, sangat tidak cocok dengan cara belajarku yang butuh keheningan, kecuali suara radio.

Setahun, 1996-1997, lantas kami berpisah. Rumah kontrakan kami mau dijual. Terpaksa menyebar. Tapi karena masih dalam lingkungan yang sama, persaudaraan tetap terjalin. Apalagi kebersamaan selama setahun benar-benar sudah membuat kami bagaikan saudara sekandung. Tak ada yang kami lewatkan…
Pernikahan kakaknya di Tasikmalaya, prosesi Geladi yang Enie habiskan dengan menginap di rumahku karena mengambil area yang sama, Jakarta, orang tua yang (masih saja) rutin menengok walau kami sudah lama di rantau….

Enie, setelah lulus, tetap saja ikatan itu masih ada. Dia kerja pada institusi yang merupakan mitra tempat kerjaku. Tentu saja, pertemuan masih tetap berlanjut. Bahkan saat dia mengabarkan akan ikut ke Oman, menemani sang suami, kami berempat (Shanti di Surabaya) masih mengatur pertemuan di bandara. Walau akhirnya gagal karena jadwal pesawat yg dipercepat.

Balik kembali ke Indonesia karena tidak betah di negeri orang, Enie menjadi orang pertama di alumni 36A yang mampu memiliki sebuah rumah, dan mengadakan selametan, mengundang kami semua. Bahagia rasanya melihat kebahagiaan keluarga mereka… Anak kecil yang sehat, rumah yang berdiri kokoh…

Mungkin itu pertemuan terakhir Enie dan aku…
Kalau hanya lewat media maya… saat Asha lahir pun kami masih berhubungan.
Sampai tadi pagi…

Sebuah jendela YM menyapa :

Lukluk (10:00:58 AM): mba tiwi
TW . (10:01:03 AM): yes
Lukluk (10:01:05 AM): memang ada anak 96 yg meninggal?
TW . (10:01:12 AM): heh ? sapa ?
Lukluk (10:01:13 AM): namanya rini dwi?
TW . (10:01:16 AM): blon ada di milis luk
TW . (10:01:23 AM): rini dwi ?
Lukluk (10:01:30 AM): itu bang hendri nanya aku
TW . (10:01:32 AM): anak apaan ?
TW . (10:01:52 AM): blon ada di milisku sih
TW . (10:01:56 AM): sik aku tanya2 YM dulu
TW . (10:02:02 AM): rini dwi lak rini rumahku
TW . (10:11:05 AM): kalo’ 96 yg namanya rini pake’ dwi cuma satu itu…

Sumpah… hati yang tadinya tenang karena dirasa tidak mungkin ada kabar tentang seorang Rini (apalagi Rini – 36A) yang tidak tiwi ketahui… plus, beberapa jendela YM konfirmasi kepada teman seangkatan yang mengaku tidak mendengar kabar apa-apa… menjadi dag-dig-dug saat tiwi menghubungi seorang teman yang bekerja di kantor yang sama dengannya.

“Iya wi, Rini meninggal kemarin sore jam 4 di Mitra Keluarga, Jatinegara.”

Sedih, marah, bingung, menumpuk jadi satu… Teman kantor. Menyaksikan saat sakitnya. Apalagi yang membuat dia tidak bisa dipercaya.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun…
Sakit sejak Oktober 2006. Meninggal Desember 2006. Berpindah dua rumah sakit. Meninggal di RS Mitra Keluarga, Jatinegara. Dimandikan di rumah duka di Pondok Bambu.
Rumah tiwi dimana ? Pondok Gede…
15-20 menit menuju rumahnya atau rumah sakitnya. Tiap pagi melewati saat berangkat kerja.

Dan tiwi nggak tau itu semua ?! Gosh ! It hurts so very…very bad…

Satu hal yang bisa tiwi lakukan. Memberitahukan kabar ini kepada seluruh penghuni asrama dan SKB 36A serta kost-kost-an Enie terakhir. Meminta do’a kepada semua…

Nie, maafin tiwi yaa… :-(

(Akhir Desember 2006)