[Article] : God, Why Me? by Arthur Ashe

Posted: March 9th, 2010 | Author: temanbaik | Filed under: A Thought, Personal | Tags: , , | No Comments »

Ada artikel bagus yang layak untuk direnungi, makanya Tiwi coba share di sini :

Arthur Ashe, the legendary Wimbledon player from USA was dying of AIDS which he got due to infected blood he received during a heart surgery in 1983. From world over, he received letters from his fans, one of which conveyed: “Why does GOD have to select you for such a bad disease ?”

To this Arthur Ashe replied:

“The world over – 50 million children start playing tennis,
5 million learn to play tennis,
500,000 learn professional tennis,
50,000 come to the circuit,
5000 reach the grand slam,
50 reach Wimbledon,
4 to semi final,
2 to the finals,
when I was holding a cup I never asked GOD ‘Why me?’.

And today in pain I should not be asking GOD ‘Why me?’ “

Happiness keeps you Sweet,
Trials keep you Strong,
Sorrow keeps you Human,
Failure keeps you Humble &
Success keeps you Glowing,

but only

Faith & Attitude Keeps you Going…

“Have great hopes and dare to go all out for them, Have great dreams and dare to live them, Have tremendous expectations and believe in them – Arthur Ashe.”

Kalo’ dalam versi singkatnya isi surat itu, dituliskannya dalam bentuk quotes :

If I were to say, “God, why me?” about the bad things, then I should have said, “God, why me?” about the good things that happened in my life.

CERDAS !! :-)


Hang on !!

Posted: March 3rd, 2010 | Author: temanbaik | Filed under: A Thought, Personal | Tags: | No Comments »

Kalau saat ini sebagian besar bertanya, “kenapa kamu memilih untuk bertahan dengan semua ini ?”

Ini jawaban dari saya :

“Yang saya yakini, hidup saya yang sebenarnya bukan di sini. Sekarang saya hanya berusaha untuk mempersiapkan yang terbaik untuk yang nanti, yang kekal di sana… Itu yang akan saya kejar.

Lagipula saya yakin, Allah sayang saya. Dan Allah, Tuhan saya, Maha Adil dan Maha Lembut. Dia Maha Tahu apa yang jadi batasan sesungguhnya bagi diri saya…

Saya memang punya pilihan. Tapi ada yang masih menjadi tanggung jawab saya, dan belum bisa memutuskan sendiri pilihannya saat ini. Dan saya rasa, semua tahu akan hal itu, bukan ?!”

Tolong hargai apa yang saya yakini untuk saat ini…

Lagipula kalo’ kata Lao Tzu, untuk berhasil di dalamnya, yang namanya cinta cuma dibutuhkan 1/3 bagian, sisanya adalah saling memaafkan… :-)

Bismillah…!


Prioritas

Posted: January 25th, 2010 | Author: temanbaik | Filed under: A Thought, Asha, Family | Tags: , , | 3 Comments »

Sebagai seorang perempuan yang sudah memiliki amanah dari Allah untuk dibesarkan, dididik menjadi seorang manusia yang berbudi baik,  tetapi masih bekerja di luar rumah, kadang membuat orang di sekitar (dan kadang malah diri sendiri) bertanya-tanya… apa sih yang sebenarnya menjadi prioritas tiwi dalam hidup ? :-)

Tiwi baru saja mengambil sebuah keputusan. Lumayan membuat pusing.
Jangan ditanya “maju mundurnya” hasil berpikir, perang batin yang harus dihadapi, fiuhhhh… sulit memang.
Tetapi mengambil keputusan, dari sebuah proses yang panjang, dan dengan tidak hanya memikirkan diri sendiri, ternyata memang lebih memuaskan.

It might be true that an opportunity never knocks twice at any man’s door. Tapi yang namanya “human life cycle” juga nggak pernah mengenal kata “can be rolled-back” kan ?

Mudah-mudahan dengan membuat satu keputusan seperti ini, merupakan langkah awal dalam membuat keputusan besar seperti mama 31 tahun lalu…

Yang jelas, selalu ada hikmah di setiap kejadian.
Dan kejadian kemarin, membuat tiwi semakin melihat dengan jelas, apa yang sebenarnya menjadi prioritas tiwi sekarang ini…
And i love knowing that my priority is still, and i am sure will always be, my kiddo !

A decision has been made. Bismillah.

PS :
For someone in that cubicle, kalo’ kata Ronan :  you say it best, when you say nothing at all… :-)
Btw, thank you yaa…


Bagaimana Kalian Ingin Dikenang ?

Posted: December 30th, 2009 | Author: temanbaik | Filed under: A Thought, Family, Personal | Tags: , , , | 2 Comments »

Sudah mau tahun baru lagi…
Biasanya kalo’ mau tahun baru, banyak orang, banyak media yang mengenang dengan cara mengulas kejadian-kejadian yang sudah lalu.

Bicara tentang mengenang, saya semalam tersenyum sambil membaca buku Bara Patiradjawane yang membicarakan kenangan dia tentang neneknya. Tentang kegemaran sang nenek memasak, kegemaran sang nenek mengumpulkan buku-buku resep yang kemudian menurun utuh ke dirinya. Diceritakan olehnya dalam satu tulisan kolom yang menyenangkan untuk dibaca.

Pagi ini, seperti biasa juga dibuka dengan membaca Kompasiana. Membaca artikel Bapak Chappy Hakim, ditulis juga tentang kenangan atas sang ayah yang diingat olehnya, dan oleh sahabat almarhum.

Tiwi sendiri, kalau sedang melamun, suka mengenang masa kecil dimana mama selalu menyambut kami pulang sekolah dengan masakannya yang berganti-ganti, membuatkan kami camilan-camilan sehat untuk “tea time” di sore hari atau saat ada teman-teman yang datang untuk belajar bersama di rumah; mengenang saat-saat kebersamaan kami malam hari mendiskusikan PR yang diberikan di sekolah; mengenang piknik-piknik kami di banyak tempat yang selalu disempatkan oleh mama dan papa untuk tetirah…

Jadi terfikir…
Seperti apa nanti Asha dan adik-adiknya akan mengenang tiwi sebagai mama-nya.
Pengen deh, Asha mengenang saya sebagai mama-nya yang selalu menyempatkan membuatkan bekal sekolah dan makanan tiap hari-nya yang dia pilih sendiri di malam sebelumnya. Dengan menu favorit semacam nasi goreng dan muffin yang berulang kali diminta. Bahkan proses memilih menu dengan membawa buku-buku resep dan duduk di sofa pun, inginnya menjadi saat yang menyenangkan untuk dikenang oleh dia.

Atau mungkin, Asha akan mengenang kebersamaan kami di dapur saat mengocok kue dan bersama-sama rebutan adonan sisa adonan dari bowl dan buru-buru menjilatinya hingga celemotan di muka kami… Pasti menyenangkan dikenang untuk momen-momen seperti itu.

Mungkin juga dia akan mengenang kebiasaan kami tiap malam untuk bernyanyi sambil bertepuk tangan dan meloncat-loncat di tempat tidur, lalu ditutup dengan menghapalkan doa-doa dan surat-surat pendek atau membaca buku-buku ceritanya (dan bahkan kadang justru gambar di majalah tiwi yang dibahas oleh kami)…

Jika diberi umur panjang, kami mungkin akan bersama-sama melewati beberapa masa lagi dalam kehidupan di masa depan. Asha bertambah besar, tiwi bertambah tua.

Yang pasti, tiwi punya niat ingin dikenang oleh anak-anak saya sebagai, kalau kata film Sang Pemimpi : “orang tua juara satu di dunia”.

Bukan dengan barang-barang terbaik yang memang selalu tiwi dan erwin usahakan untuk bisa berikan kepada mereka, bukan dengan materi yang memang sedang kami siapkan dengan sungguh-sungguh untuk masa depannya;
Tapi dengan saat-saat istimewa dalam kehidupan kami, momen-momen yang kami bagi bersama, kebiasaan-kebiasaan yang cuma kami yang memilikinya….

asha dan adonan

ini asha, dan sisa adonan kue profesional pertama kami... :-)

Tiwi yakin, yang seperti itu akan lebih menyenangkan untuk dikenang. Sampai kapanpun.

Akhir Tahun 2009.
(Tulisan ini bukan resolusi untuk tahun depan. Tapi untuk selamanya.
Semoga.)


Mencari Empati di Dunia Maya

Posted: November 12th, 2009 | Author: temanbaik | Filed under: A Thought, Friendship, Personal | Tags: , , , | No Comments »

Udah lama nggak nulis yang “sedikit” serius yaa ?! :D Gara-gara belakangan ini punya bacaan baru Kompasiana *hi guys…*, jadi terusik untuk nulis rada serius kali ini… :D

Cerita-nya… sekitar sebulan yang lalu, Cerita tentang Puri jadi topik yang sangat heboh di Kompasiana. Jadi ada di “rumah virtual” itu, ada seseorang yg memiliki account bernama “Puri” dan memiliki blog.
Puri ini masih berstatus mahasiswa. Masih muda kan artinya ?! Dan, dia memiliki blog yang menceritakan kehidupan dia sehari-hari bersama sahabat baru-nya, yaitu penyakit kanker.
Ada sekitar 4-5 posting yang dia tulis tentang penyakitnya, tentang bagaimana dia menyikapinya, tentang keluarganya… Sampai akhirnya dia diberitakan meninggal melalui sms yang dikirim melalui sesama penghuni Kompasiana.

Blog-nya dalam waktu singkat (dengan postingan belum mencapai 10 postingan bisa dibilang singkat kan ?), menuai banyak simpati dari pengunjung maupun sesama penulis di Kompasiana.
Salah satunya, adalah Tiwi sebagai pengunjung tetap :D
Membaca postingannya membuat saya merasa banyak-banyak bersyukur karena diberi nikmat sehat yang luar biasa oleh Allah. Dan juga merasa sedih karena anak seusia itu sudah harus merasakan sakitnya “kanker” yang katanya “luar biasa”, juga merasa lega karena pada akhirnya dia meninggal, yang artinya nggak lagi kesakitan, tho ?!
Selama mengikuti tulisannya, tiwi teringat seorang teman sekolah yang juga sedang berjuang melawan kanker-nya dengan semangat yang luar biasa *hai, Sar ! cepet sembuh yaa !*

Belakangan, diketahui bahwa tokoh “Puri” yang selama ini menuliskan kisah-kisah itu adalah rekaan semata. Ditulis oleh orang (atau banyak ?) yang sedang mengikuti perlombaan “Daun Muda” *kenapa yaa nama perlombaannya juga aneh gitu ? :-? *

Bisa dibayangkan marah-nya para simpatisan kisah “Puri” tersebut nggak ?! Betapa merasa tertipunya kami semua… Oleh seseorang yang bahkan mungkin sudah dianggap sebagai “saudara baru”.
Tapi apakah benar kami pantas untuk marah ?! Toh “Puri” tidak pernah mengemis apa-apa selama menuliskan postingannya.

Memikirkan apakah layak atau tidak kami semua marah dengan cerita rekaan tersebut, Tiwi membayangkan kondisi saat tsunami Aceh tahun 2005 dulu. Dulu (sampai sekarang juga sih) bergabung dalam komunitas Blogfam. Saat tsunami itu, kami mengetahui bahwa salah seorang anggota keluarga Blogfam juga turut menjadi korbannya.
Begitu mengetahui hal tersebut, dalam waktu sangat singkat, kami bersama-sama menggalang sumbangan dana. Tidak tanggung-tanggung, karena kami adalah komunitas berbasis dunia maya yang letaknya ada hampir di seluruh dunia, transferan langsung masuk dari mana-mana… Nyaris tanpa pertanyaan, nyaris tanpa praduga apapun.
Saat sudah terkumpul cukup banyak, kami langsung saat itu juga mentransfer ke rekening tabungan teman kami yang berada di sana untuk digunakan pindah saat itu juga ke Pulau Jawa.

Benang merahnya adalah…
Apakah saat itu kami sudah pernah bertemu dengan teman kami yang berada di Aceh tersebut ? Belum.
Apakah kami melakukan cross-check sebelumnya bahwa benar teman kami terkena bencana itu ? Tidak juga.
Apakah kami melakukan tindakan bodoh ? Untungnya tidak :D

Sepertinya, iklim bertetangga di dunia maya, dalam kasus seperti ini tiwi persempit menjadi blog dan forum khususnya) memang sudah sedemikian rupa membuat empati lebih cepat terlihat terbangun dibandingkan hidup di dunia nyata. Kenapa ?
Kalo’ kemarin yg terlintas di benak tiwi adalah, emang ada gitu orang jahat yang niat banget menipu, atau membohongi dengan bersusah payah membuat account blog, membuat postingan atau melakukan registrasi ke forum, bersahut-sahutan di dalamnya ?
Ternyata dengan adanya kasus “Puri”, jawabannya : ada tuh ! Hehehehe
Mungkin memang pencipta tokohnya tidak jahat pada awalnya. Tetapi dia salah memanfaatkan komunitas sebesar Kompasiana untuk menciptakan tokoh fiktif yang memang diniatkan untuk merebut simpati sebagai salah satu syarat untuk mengikuti lomba itu.
Siapapun yang bergabung ke dalam komunitas, apalagi seperti Kompasiana, pasti dengan tujuan yang baik dan memang (mudah-mudahan) merupakan orang baik-baik.

Empati yang terbangun, pun hanya dengan tulisan, di dunia maya saat rentan untuk disalah gunakan. Karena hidup berdampiangan di dunia maya, memang hanya bermodalkan kepercayaan, kan ?! :D

Bayangkan kalo’ misalnya pencipta karakter tersebut juga memanfaatkan untuk mencari dukungan material berupa pembukaan transferan urunan dana untuk “Puri”. Tiwi yakin hari itu juga saat kabar kematian “Puri” didengar, rekening tersebut akan menerima transferan dari banyak orang yang memang tulus ikut berempati.

Kemarahan banyak orang akan kasus ini memang wajar menurut tiwi. Dimana-mana kebohongan memang tidak akan pernah bisa ditolerir. Apalagi yang berpeluang menjadi sebuah kasus yang berbentuk penipuan material seperti ini…

Tapi apakah kejadian seperti ini akan membunuh empati bertetangga di dunia maya ? Mudah-mudahan tidak yaa… Karena empati biasanya hanya dimiliki oleh orang baik-baik. Dan kalo’ empati hilang perlahan-lahan, tidak enak kalo’ juga harus membayangkan orang baik juga akan berkurang dan bukannya bertambah… :-(

Duh, semoga besok-besok tidak akan ada lagi orang yang memanfaatkan kebaikan orang lain untuk kepentingannya sendiri yaa… Di dunia maya, apalagi di dunia nyata. Amiiinnn…


Rumah

Posted: October 13th, 2009 | Author: temanbaik | Filed under: A Thought, Personal | Tags: , , | No Comments »

Tiwi paling seneng dengan yang namanya quotes. Mau romantic quotes, wisdom, motivation, apa ajah lah… Berasa adem ajah kalo’ baca quotes.

Jaman-jaman SMA, bersama Dian sepulang sekolah, kami paling suka “menunggu” di Gramedia, atau Familia. Menunggu apa ?! Yaa menunggu jeda antara sekolah dengan les biasanya.

Dan di kedua tempat itu, biasanya kami hunting ke tempat-tempat kartu ucapan. Buat apa ? Untuk menghapalkan isi-isi kartu-nya Hallmark, dan kawan-kawannya itu. Ada yang isinya hanya sebatas quotes, ada yang puisi yg lumayan panjang…

Kan tertulis bahwa kita dilarang “menuliskan” atau “mengambil gambar” dari kartu-kartu itu… Tapi nggak ada yg melarang buat menghapal, tho ?! Hehehe…

Satu yang paling masih bisa Tiwi hapal sampai saat ini adalah puisi tentang “HOME”. Puisi ini panjang banget. Tiwi ingat, butuh beberapa kali bolak-balik ke tempat kartu untuk bisa hapal keseluruhan isi.

Niat yaa ?! Abis bagus banget… :D

Tadi pagi, berusaha menghapalkan lagi sampai bait terakhir, ternyata ada yang lupa-lupa… Sampai akhirnya penasaran dan minta tolong sama Google :p

Dan hasilnya ini :

What is a Home?

A home is a place
where you know you belong
A place to relax
while the world moves along

A home is a place
that you look at with pride
Loving each room
and people inside

A home is a place
where your heart feels at rest
A place filled with sunshine
and all you love best

Bagus yaa…
Konsep Tiwi tentang sebuah rumah, memang harus selalu seperti ini.
Ngangenin… selalu bikin penghuni-penghuninya pengen pulang terus…

(bersambung)


We’ll See…

Posted: August 31st, 2009 | Author: temanbaik | Filed under: A Thought, Personal | No Comments »

Siapa yang bilang bahwa menonton film hanya akan membuang-buang waktu dan uang untuk kesenangan sesaat… pasti mereka belum pernah memilih film yang benar untuk ditonton :D Hehehe…

Tiwi pribadi sangat-sangat suka menonton film, karena ada beberapa film yang memang bisa “memberikan” sesuatu…

Contohnya : Charlie Wilson’s War.

Selain yang berperan adalah 2 (dua) artis favorit, Tom Hanks dan Julia Roberts, ada potongan dialog yang bagus di dalam film itu :

Gust Avrakotos:
There’s a little boy and on his 14th birthday he gets a horse…
and everybody in the village says, “how wonderful. the boy got a horse”
And the Zen master says, “we’ll see.”
Two years later The boy falls off the horse, breaks his leg,
and everyone in the village says, “how terrible.”
And the Zen master says, “We’ll see.”
Then, a war breaks out and all the young men have to go off and fight…
except the boy can’t cause his legs all messed up.
and everybody in the village says, “How wonderful.”

Charlie Wilson:
Now the Zen master says, “We’ll see.”

Sealu ada hikmah di balik kejadian…
Dan setelah beberapa kejadian yang tidak begitu mengenakkan di rentang 6 bulan ini… I can only say to myself : “We’ll see…” :-)


Happy..happy !!

Posted: July 14th, 2009 | Author: temanbaik | Filed under: A Thought, Personal | No Comments »

Happy 33rd anniversary, Ma… Pa…

After experiencing a marriage by myself, it’s now a BIG, not just a WOW now to see you both can reach “33″ numbers in this holy institution…

Guess we still have to learn a lot to be just like what you both can have now…

Thank you, Ma, Pa, for being the best teachers ever !!

Happy wedding also for our cousin, Mia.

Barakallah to all of us.


A Thought : Jodoh

Posted: January 16th, 2009 | Author: temanbaik | Filed under: A Thought, Personal | Tags: , , | 2 Comments »

Coba deh, direnungkan beberapa obrolan berikut :

Scene 1 :

A : “Duuhhhh gw bingung ama sepupu gw itu… suami istri kok bisa sama plek gitu. Dua-duanya perhitungan banget kalo’ mo beli apa-apa. Semua dipikirin mateng-mateng dulu.
Keren banget… jadi bisa nabung kan…! Gak kaya’ gw ama laki gw, dua-duanya boros, gak bisa liat duit dikit, langsung foya-foya….”

B : “Yaaa itulah yg namanya berjodoh… kek orang kembar !!”

Scene 2 :

A : “Duh… gw bingung nih caranya ngatur pengeluaran… Perasaan abis-abisan melulu tiap bulan !” [status : single]
B : “Makanya buruan nikah… enak tuw punya istri kek bini gw. Secara gw boros gini, dia bisa ajah tuw nyimpen-nyimpen uang buat beli yang penting-penting… Jadi deh gw bisa punya rumah…”
A : “Gitu yah ? Emang bener mesti buru-buru nikah yaa… Biar ada yg bisa ngimbangin. Katanya orang-orang  kan emang gitu, kalo’ jodoh, biasanya saling ngelengkapin. Yang satu boros… yang satu lagi pinter banget berhemat…”

Moral of the story :
Gak ada benang merahnya untuk mendefinisikan siapa yg seharusnya menjadi jodoh kita.
Teteeeuuppp, Jodoh itu Rahasia Allah.
Berdo’alah selalu yang terbaik untuk kita…. dan sang jodoh yang telah dipilih oleh-Nya…

- dedicated to cah gemblung 2 di gatot subroto -
*tulisan ini terpikir pas di motor, saat ujan tadi pagi. mo ngobrol ama erwin gak kedengeran, mo nyanyi-nyanyi udah keabisan lagu… akhirnya BENGONG !! bwekekekekke


Secuil Cerita Tentang Telepon Rumah (2)

Posted: November 29th, 2008 | Author: temanbaik | Filed under: A Thought, Personal | Tags: , , | 3 Comments »

Menyambung entry sebelumnya, ada latar belakang unik juga kenapa buat tiwi mendapatkan telepon rumah itu adalah sebuah kemewahan… (selain karena haru menempuh prosesnya yg ribet yaa…)

Dulu, sejak pindah ke Pondok Gede di tahun 1983, hingga tiwi lulus SD, rumah kami belum dilewati tiang telepon milik TELKOM. Boro-boro dilewati tiang TELKOM yaa, wong mesin giling ajah kaya’nya baru menginjak Pondok Gede tuh sekitar tiwi SD deh… Dulu jalanannya rusak banget deh !!

Nah, yang paling tiwi ingat, karena rumah kami yg sangat jauh itu (jaman dulu yaa :p), kalo’ papa dan mama ingin memanjakan kami dengan berbelanja di Ratu Plaza (duuhhh… dulu itu Ratu Plaza udah keren banget deh kaya’nya) atau ke Melawai-Blok M, kami pasti janjian melalui telepon umum. Telepon papa siang-siang, untuk konfirmasi kami jadi atau tidak ke kota… (iyaaa kantor papa kan di daerah Thamrin, kota tho !?). Saking seringnya diajak mama telepon melalui telepon umum koin yg sistem putar itu lho.. hingga sekarang nomor telepon kantor papa itu tercantol di kepala, 333-409 ! Hanya 6 digit saja…

Ada pengalaman paling mengharukan juga buat kami. Saat mama menunaikan ibadah haji di tahun 1992, atau saat itu tiwi sudah kelas 2 SMP. Dan tetap, rumah kami belum dilewati jaringan TELKOM ! Bor-boro kenal teknologi handphone seperti sekarang yaa, telepon rumah aja belum ada… Kasian yaa…
Jadi, kalo’ mama sedang kangen ingin mendengar suara anak-anaknya, mama telepon papa di kantor sebelum weekend untuk janjian. Naahh… di hari Sabtu atau Minggu yang disepakati, kami ke rumah uwa atau mbah di Pasar Minggu untuk menunggu telepon dari mama. Bayangin, ribet sekali dunia jaman dulu yaa…

Tapi kisah paling menyedihkan yang bisa tiwi ingat tentang telepon rumah adalah, saat tiwi kelas 6 SD. Ada kejadian kriminal yg menimpa tetangga persis sebelah rumah tiwi. Keluarga itu sudah seperti keluarga bagi kami. Saat musibah itu terjadi, siang-siang mama menjadi orang ke-dua yang tau. Bayangkan, perumahan tempat kami tinggal adalah perumahan kantor, yg isinya hanya anak-anak dan ibu-ibu saja di siang hari (iyaa saat itu, kalo’ sekarang malah isinya banyak bapak-bapaknya.. :D ), ditimpa peristiwa kriminal. Yang pernah kebayang saja oleh kami bakal kejadian ajah sepertinya nggak !

Hal pertama yg mama lakukan saat itu adalah mencari telepon terdekat untuk memberi tahukan kabar itu kepada suami tetangga kami tersebut di kantor. Tahu apa yg mama lakukan ? Mama berlari sekitar 2 km menuju toko material terdekat, yg merupakan tempat terdekat yg bisa ditemui yg memiliki telepon untuk dipinjam. Baru sadar setelah memutuskan hubungan dan memberitakannya, ternyata selama berlari, mama tidak memakai alas kaki !! Masya Allah

Mbah uti di Malang meninggal dikabarkan melalui sepupu papa di Tebet, tiwi kelas 6 SD. Mbah akung di Malang meninggal dikabarkan melalui rumah mbah di Pasar Minggu sewaktu tiwi SMP….
Nggak heran sewaktu dikabarkan jaringan TELKOM masuk ke komplek kami (tiwi malah lupa detailnya tahun berapa), antriannya benar-benar menggila di loket… Sepertinya hari ini semua bapak-bapaknya ijin tidak masuk kerja :D

Mungkin cerita-cerita itu juga yg mendorong tiwi masuk ke dunia telekomunikasi yaa… :p
(Yaaa… nggak lah… wong masuk Teknik Elektro-nya saja nggak direncanakan :D )

-selesai-