Posted: June 14th, 2010 | Author: temanbaik | Filed under: Asha, Daily | Tags: Asha, celoteh | No Comments »
Udah lama juga ternyata gak update yaa… Kaget sendiri ngeliat last posting-nya udah dari bulan Maret.
Banyak yang menanyakan, polah apa lagi yang asha lakukan akhir-akhir ini… Hehehe, ternyata menghibur banyak orang yaa tingkah asha, kirain mah buat tiwi doang
Asha sekarang sudah menjadi sahabat tiwi. Sudah bisa diajak ngobrol… Sudah suka cerita banyak tentang dia sendiri
Bener-bener sudah kaya’ punya teman perempuan yg bisa diajak ngopi bareng sambil ngobrolin banyak hal…
Kemarin kami dari bandara, berdua saja di mobil. Kalo’ menyetir, kadang tiwi memang terkesan “nyuekin” dia. Tiba-tiba di bangku sebelah dia ngomong…
A : “Mama, nanti kalo’ asha udah bisa setir, mama asha tanya yaa.. Mama mau kemana ?” *dengan nada maniisss banget sampe tiwi terharu sejadi-jadinya…
T : “Iyaa, nak. Ma kasih yaa.. Asha baik banget sih !”
A : “Iyaaaa.. mama mau kemana ?”
T : nada jail “London, nak”
A : *tampang bingung
A : “Oohh iyah nanti yaa, ma. Sekarang tapi mama setirin asha dulu yaa ke ambassador. Asha mau beli Dendon (nama boneka-nay dia – red), ma !”
T : *glek
Pemalakan oleh anak kecil berusia 3,5 tahun. Tapi beneran deh, kata-kata asha sekarang suka bikin menye-menye ataupun terpingkal-pingkal…
Semalem lagi… dia sedang manja banget.
Di kamar tidur utama kami, ada 2 tempat tidur. Tempat tidur besar, dan tempat tidur asha, yang ukurannya lebih kecil.
Walaupun satu ruangan, tapi kami sudah mulai membiasakan asha tidur sendiri. Semalem gagal total tapi.
A : “Mama… mama bobo di sini ajah !! Jangan di tempat tidur mama, di sini ajah ma…” *sambil tepuk-tepuk tempat di sebelah-nya
T : “Iya, sha. Kenapa emang nak ?!”
A : “Asha mau peluk mama… peluk-peluk-peluk maa…”
Whuaa… She really knows how to cheer me up ! How to re-charged my energy
Love you, kiddo !! More and more in everyday.
Posted: March 29th, 2010 | Author: temanbaik | Filed under: Asha, Daily | 1 Comment »
Whuah, 2 minggu hectic sama urusan kantor… Beneran kualat kaya’nya sama “kesempatan” yang nggak diambil kemarin…
Tapi alhamdulillah, ada asha di rumah. Yang selalu bisa membuat lelah itu “menguap” kalo’ mendengar celoteh-celoteh dia…
Tentang anak kecil peniru ulung tingkah laku orang-orang di sekitarnya, tiwi percaya banget !
[Scene 1]
Setting : Ruang main asha, sambil telepon ibu+bapak.
Asha [A] : “Uti, ke sini dong, Ti. Ke rumah asha… Ke Jakarta !”
Ibu [I] : “Yaaa… mau sha, tapi Uti kan gak punya uang…”
A : *panik melirik ke Rina, salah satu asisten teman bermainnya* “Na…na… pinjem uangnya, Na. Ayo, ambil Na. Kasih ke uti tuh, nggak punya uang. Kasian !” *sambil nyodorin tangan gaya minta uang*
Hahahaha…. Kalo’ ini, contoh nyata dari tiwi
tiwi jarang punya cash di dompet. Jadi kalo’ weekend, tiwi suka pinjem uang ke Rina atau Bu Suhri…
Mungkin asha sering mencuri dengar yaa..
Itu belum selesai. Karena ibu nggak kuat, dan terus ketawa, telepon di sana dikasih ke bapak. Meneruskan ngobrol sama asha…
Bapak [B] : “akung ini sha…”
A : “Akung, ke sini dong, kung… ke rumah asha !” *tetep memaksa, dikomporin bu Suhri sepertinya*
B : “Akung nggak punya uang juga, sha. Kan tadi uti dah bilang kan, ndak punya uang…”
A : “Yaaahh, gimana sih ?! Pada nggak punya uang. Jualin barang ajah lah, kung !!”
Semua orang : *ngejengkang*
Hahahaha….
Ini bener-bener meniru tiwi lagi. Bukan masalah jualin barang pas nggak punya uang yaa :p
Tapi kalo’ tiwi sedang ngobrol sama bu suhri dan rina, dan menyuruh mereka refreshing belanja-belanja ke pasar… kalo’ jawabannya “nggak punya uang”, tiwi selalu ngegodain gini : “halah, nggak punya uang mulu. itu barang-barang daripada numpuk mending dijual-jualin ajah tuh ! (koran, botol-botol, dll) uangnya dibuat jajan sana !”
Dan lagi-lagi, itu diserap sama asha =))
Menakjubkan yaa…
Alhamdulillah, kalo’ dari sisi yang baik-baik-nya (yang tadi kan sisi jailnya dia tuh !), asha sekarang sudah narik-narik sajadah setiap terdengar adzan. Bahkan saat tiwi masih di kantor… 
Biasanya cuma sholat jama’ah maghrib dan isya saja.
Saat mau tidur, sudah makin bertambah hapalan doa-doa pendeknya. Ditambah hadits-hadits pendek sekarang ini. Dan nama-nama malaikat dan Rasul…
Mudah-mudahan jadi anak sholehah yaa, Nak. Anak cerdas. Anak yang membanggakan orang tuanya. Anak yang bermanfaat bagi sesama-nya. Dan yang paling penting, anak yang selalu dibimbing Allah dalam setiap langkah hidupnya. Amiiinn….
She is, indeed, my reason to live this life. Thank you kiddo.
Posted: March 9th, 2010 | Author: temanbaik | Filed under: A Thought, Personal | Tags: arthur ashe, athlete, inspirational | 1 Comment »
Ada artikel bagus yang layak untuk direnungi, makanya Tiwi coba share di sini :
Arthur Ashe, the legendary Wimbledon player from USA was dying of AIDS which he got due to infected blood he received during a heart surgery in 1983. From world over, he received letters from his fans, one of which conveyed: “Why does GOD have to select you for such a bad disease ?”
To this Arthur Ashe replied:
“The world over – 50 million children start playing tennis,
5 million learn to play tennis,
500,000 learn professional tennis,
50,000 come to the circuit,
5000 reach the grand slam,
50 reach Wimbledon,
4 to semi final,
2 to the finals,
when I was holding a cup I never asked GOD ‘Why me?’.
And today in pain I should not be asking GOD ‘Why me?’ “
Happiness keeps you Sweet,
Trials keep you Strong,
Sorrow keeps you Human,
Failure keeps you Humble &
Success keeps you Glowing,
but only
Faith & Attitude Keeps you Going…
“Have great hopes and dare to go all out for them, Have great dreams and dare to live them, Have tremendous expectations and believe in them – Arthur Ashe.”
Kalo’ dalam versi singkatnya isi surat itu, dituliskannya dalam bentuk quotes :
If I were to say, “God, why me?” about the bad things, then I should have said, “God, why me?” about the good things that happened in my life.
CERDAS !!
Posted: March 3rd, 2010 | Author: temanbaik | Filed under: A Thought, Personal | Tags: thought | No Comments »
Kalau saat ini sebagian besar bertanya, “kenapa kamu memilih untuk bertahan dengan semua ini ?”
Ini jawaban dari saya :
“Yang saya yakini, hidup saya yang sebenarnya bukan di sini. Sekarang saya hanya berusaha untuk mempersiapkan yang terbaik untuk yang nanti, yang kekal di sana… Itu yang akan saya kejar.
Lagipula saya yakin, Allah sayang saya. Dan Allah, Tuhan saya, Maha Adil dan Maha Lembut. Dia Maha Tahu apa yang jadi batasan sesungguhnya bagi diri saya…
Saya memang punya pilihan. Tapi ada yang masih menjadi tanggung jawab saya, dan belum bisa memutuskan sendiri pilihannya saat ini. Dan saya rasa, semua tahu akan hal itu, bukan ?!”
Tolong hargai apa yang saya yakini untuk saat ini…
Lagipula kalo’ kata Lao Tzu, untuk berhasil di dalamnya, yang namanya cinta cuma dibutuhkan 1/3 bagian, sisanya adalah saling memaafkan…
Bismillah…!
Posted: February 22nd, 2010 | Author: temanbaik | Filed under: Asha, Daily | Tags: Asha, financial, motivasi, parenting | 1 Comment »
Beberapa hari “tepar” di rumah, dihibur dengan tingkah laku dan kata-kata asha yang bikin geleng-geleng…
[Adegan 1]
Setting : ruang keluarga sore hari, asha di depan cash register, mainannya dan selembar kartu nama di tangannya.
A : “Mama… ini dibayan (read : r) dulu yah !” Sambil mengambil buku yang sedang tiwi baca, dan mendekatkan barcode scanner yang ada di cash register. “Beep…beep” bunyi-nya ketika tombol scan dipencet.
Saya : “Jadi berapa mbak semuanya ?”
A : “Tiga, ma… Dibayan-nya DIGESEK AJA yaa ma… Sini di-GESEK dulu sama asha yaa !” sembari tangan kanannya dengan lihai memegang kartu nama dan melakukan gerakan swipe di salah satu ruang di cash register !! Persis kasir-kasir di hypermarket atau toko buku…
S : *pingsan*
[Adegan 2]
Setting : ruang keluarga malam hari, asha sedang mewarnai gambar itik di kertas yang memang sudah diperbanyak untuk alat dia berlatih.
Saya memperhatikan dia mewarnai gambar.
S : “Asha, mulai belajar dong nak, mewarnai-nya kalo’ bisa jangan keluar garisnya… Ini lho, kan bebeknya kaki-nya cuma sampe’ sini nih, Sha…” sambil menunjuk batas kaki bebek di gambar.
A : *tetap mewarnai*
S : “Asha, belajar jangan keluar garis yaa, nak. Biar nanti kalo’ ada lomba, bisa dapet hadiah. Kan gambarnya bagus…” sambil keukeuh sumekeuh berusaha memotivasi dia supaya bisa disiplin mewarnainya.
A : “Ndak pa-pa ma.. ndak pa-pa… gini ajah. Nanti Asha ajah yang beli hadiahnya sendiri.”
S : *bengong*
S.O.S !!
Posted: January 25th, 2010 | Author: temanbaik | Filed under: A Thought, Asha, Family | Tags: anak, karir, prioritas | 3 Comments »
Sebagai seorang perempuan yang sudah memiliki amanah dari Allah untuk dibesarkan, dididik menjadi seorang manusia yang berbudi baik, tetapi masih bekerja di luar rumah, kadang membuat orang di sekitar (dan kadang malah diri sendiri) bertanya-tanya… apa sih yang sebenarnya menjadi prioritas tiwi dalam hidup ?
Tiwi baru saja mengambil sebuah keputusan. Lumayan membuat pusing.
Jangan ditanya “maju mundurnya” hasil berpikir, perang batin yang harus dihadapi, fiuhhhh… sulit memang.
Tetapi mengambil keputusan, dari sebuah proses yang panjang, dan dengan tidak hanya memikirkan diri sendiri, ternyata memang lebih memuaskan.
It might be true that an opportunity never knocks twice at any man’s door. Tapi yang namanya “human life cycle” juga nggak pernah mengenal kata “can be rolled-back” kan ?
Mudah-mudahan dengan membuat satu keputusan seperti ini, merupakan langkah awal dalam membuat keputusan besar seperti mama 31 tahun lalu…
Yang jelas, selalu ada hikmah di setiap kejadian.
Dan kejadian kemarin, membuat tiwi semakin melihat dengan jelas, apa yang sebenarnya menjadi prioritas tiwi sekarang ini…
And i love knowing that my priority is still, and i am sure will always be, my kiddo !
A decision has been made. Bismillah.
PS :
For someone in that cubicle, kalo’ kata Ronan : you say it best, when you say nothing at all… 
Btw, thank you yaa…
Posted: December 30th, 2009 | Author: temanbaik | Filed under: A Thought, Family, Personal | Tags: Asha, kebiasaan, keluarga, kenangan | 2 Comments »
Sudah mau tahun baru lagi…
Biasanya kalo’ mau tahun baru, banyak orang, banyak media yang mengenang dengan cara mengulas kejadian-kejadian yang sudah lalu.
Bicara tentang mengenang, saya semalam tersenyum sambil membaca buku Bara Patiradjawane yang membicarakan kenangan dia tentang neneknya. Tentang kegemaran sang nenek memasak, kegemaran sang nenek mengumpulkan buku-buku resep yang kemudian menurun utuh ke dirinya. Diceritakan olehnya dalam satu tulisan kolom yang menyenangkan untuk dibaca.
Pagi ini, seperti biasa juga dibuka dengan membaca Kompasiana. Membaca artikel Bapak Chappy Hakim, ditulis juga tentang kenangan atas sang ayah yang diingat olehnya, dan oleh sahabat almarhum.
Tiwi sendiri, kalau sedang melamun, suka mengenang masa kecil dimana mama selalu menyambut kami pulang sekolah dengan masakannya yang berganti-ganti, membuatkan kami camilan-camilan sehat untuk “tea time” di sore hari atau saat ada teman-teman yang datang untuk belajar bersama di rumah; mengenang saat-saat kebersamaan kami malam hari mendiskusikan PR yang diberikan di sekolah; mengenang piknik-piknik kami di banyak tempat yang selalu disempatkan oleh mama dan papa untuk tetirah…
Jadi terfikir…
Seperti apa nanti Asha dan adik-adiknya akan mengenang tiwi sebagai mama-nya.
Pengen deh, Asha mengenang saya sebagai mama-nya yang selalu menyempatkan membuatkan bekal sekolah dan makanan tiap hari-nya yang dia pilih sendiri di malam sebelumnya. Dengan menu favorit semacam nasi goreng dan muffin yang berulang kali diminta. Bahkan proses memilih menu dengan membawa buku-buku resep dan duduk di sofa pun, inginnya menjadi saat yang menyenangkan untuk dikenang oleh dia.
Atau mungkin, Asha akan mengenang kebersamaan kami di dapur saat mengocok kue dan bersama-sama rebutan adonan sisa adonan dari bowl dan buru-buru menjilatinya hingga celemotan di muka kami… Pasti menyenangkan dikenang untuk momen-momen seperti itu.
Mungkin juga dia akan mengenang kebiasaan kami tiap malam untuk bernyanyi sambil bertepuk tangan dan meloncat-loncat di tempat tidur, lalu ditutup dengan menghapalkan doa-doa dan surat-surat pendek atau membaca buku-buku ceritanya (dan bahkan kadang justru gambar di majalah tiwi yang dibahas oleh kami)…
Jika diberi umur panjang, kami mungkin akan bersama-sama melewati beberapa masa lagi dalam kehidupan di masa depan. Asha bertambah besar, tiwi bertambah tua.
Yang pasti, tiwi punya niat ingin dikenang oleh anak-anak saya sebagai, kalau kata film Sang Pemimpi : “orang tua juara satu di dunia”.
Bukan dengan barang-barang terbaik yang memang selalu tiwi dan erwin usahakan untuk bisa berikan kepada mereka, bukan dengan materi yang memang sedang kami siapkan dengan sungguh-sungguh untuk masa depannya;
Tapi dengan saat-saat istimewa dalam kehidupan kami, momen-momen yang kami bagi bersama, kebiasaan-kebiasaan yang cuma kami yang memilikinya….

ini asha, dan sisa adonan kue profesional pertama kami...
Tiwi yakin, yang seperti itu akan lebih menyenangkan untuk dikenang. Sampai kapanpun.
Akhir Tahun 2009.
(Tulisan ini bukan resolusi untuk tahun depan. Tapi untuk selamanya.
Semoga.)
Posted: November 30th, 2009 | Author: temanbaik | Filed under: Asha, Daily | Tags: anak, Asha, mainan | No Comments »

kapal perang
Paling menyenangkan, kalau bisa sampai di rumah belum terlalu malam. Masih bisa menemani asha memainkan mainan “jaman dulu” ini…
Cuma mainan kaki lima dari perempatan UKI. Tapi benar-benar bisa membuat mata asha berbinar karena mendengar suara kapalnya yang khas “tok..tok..tok…”, dan melihat kepulan asap yang keluar dari cerobong-nya.
Harga Rp 5000 menjadi semakin terasa murah !!
Seperti kata kaleng wadahnya… it’s really a “Good Time” after a tiring 8.30-5.30…!
Posted: November 17th, 2009 | Author: temanbaik | Filed under: Family, Personal | Tags: pondok gede, Rumah, wilayah | 1 Comment »
(Terilhami setelah membaca postingan di sini)
Sejak 1983, kami sekeluarga pindah dari kawasan Lenteng Agung, Pasar Minggu, ke daerah yang bernama Pondok Gede.
Daerah yang pada waktu itu masih berupa daerah yang seperti baru dibuka untuk ditinggali. Bahkan tiwi masih ingat, saat pindahan, truk pembawa barang harus melewati jalan utama yang masih berbatu-batu kali kasar. Bahkan belum diaspal ! Apalagi mengenal teknologi pelapis hot mix
Akibatnya, di tahun-tahun awal pindah, rumah kami selalu merupakan pilihan terakhir untuk dijadikan tempat acara-acara keluarga ! Hehehe…. memang saat itu Pondok Gede belum terkenal akan kemacetannya seperti sekarang, tapi jalanan ala era The Flinstones-nya memang akan membuat siapapun, dengan jenis kendaraan apapun merasa malas untuk melewatinya…
Lalu, kenapa ke Pondok Gede ?! Alasannya sederhana saja.
Karena saat itu, perusahaan tempat papa bekerja, menyediakan fasilitas untuk memiliki rumah bagi pegawainya dalam satu perumahan yang letak tanahnya di Pondok Gede
Kalau saat ini tiwi ditanya : “Tinggal dimana, wi ?!”
Akan agak sulit menjawabnya. Karena lokasi Pondok Gede sendiri memang merupakan daerah antara
Iyaa.. daerah antara Jakarta dan Bekasi, Jawa Barat. Batasnya pun hanya tipis, hanya sebuah sungai kecil (yang baru tiwi tahu juga bahwa namanya Kali Sunter) yang melintasi kawasan Jatiwarna dan Molek di sisi arah TMII-Lubang Buaya, dan jalan layang di atas jalan tol Cikampek di sisi arah Kalimalang.
Jl. Raya Pondok Gede sendiri memang melintasi 2 (dua) propinsi. Karena jalan yang dimulai (atau malah berakhir) di kawasan TMII tersebut terbentang hingga kawasan Pasar Pondok Gede.
Sungai-nya sendiri terletak lebih dekat ke kawasan Bekasi, yang membuat Jl. Raya Pondok Gede bagian Jakarta lebih panjang daripada bagian Jawa Barat-nya.
Tapi wilayah Pondok Gede sendiri secara keseluruhan, memang lebih besar di wilayah Bekasi, Jawa Barat-nya.
Kalo’ pertanyaan tadi dijawab dengan, “Pondok Gede”.
Pasti akan ada komentar tambahan dari si penanya yang memerlukan penjelasan lebih panjang lagi. Seperti ini : “Hah, jauh banget, wi… Bekasi sana kan ?!”
Hmm… iya sih, secara resmi yang tertulis di KTP memang Pondok Gede masuk ke wilayah Bekasi. Tapi untuk menuju rumah tiwi, akan lebih mudah dicapai melalui Jakarta.
Bahkan supaya resmi boleh dibilang warga Bekasi, tiwi pernah coba-coba untuk mencoba moda transportasi KRL dari Gambir ke stasiun Bekasi yang memang berada di pusat Kota Bekasi, dan ternyata memakan waktu lebih lama untuk sampai di rumah dari stasiun tersebut, ketimbang memilih jalur tol Pondok Gede Barat yang masih merupakan bagian Jakarta, atau malah tol TMII.
Satu hal lagi yang tiwi masih ingat sampai sekarang, waktu kantor pos Pondok Gede baru dibuka di dekat perumahan kami, Pak Pos-nya pernah memberi petunjuk penulisan alamat agar memudahkan pengantaran surat maupun paket apapun yang ditujukan kepada kami.
“Tulis saja, Pondok Gede 1741X yaa.. jangan Bekasi 1741X ! Nanti malah akan lama sampainya, karena dikirimkan ke Kantor Pos pusat di Bekasi dulu… Muter-muter malah nanti kirimannya !”
Entah bagaimana SOP yang sebenarnya tentang pengiriman surat atau paket, tapi kata-kata itu terbawa di pemikiran Tiwi sampai saat ini.
Penulisan alamat tiwi jika diminta, pasti : Komp. ABCD, Jati, Pondok Gede 1741X.
Kecuali memang tersedia kolom Kabupaten atau Propinsi di formulirnya.
(Nanti lagi yaa…)
Posted: November 12th, 2009 | Author: temanbaik | Filed under: A Thought, Friendship, Personal | Tags: berbohong, cerita puri, empati, kompasiana | No Comments »
Udah lama nggak nulis yang “sedikit” serius yaa ?!
Gara-gara belakangan ini punya bacaan baru Kompasiana *hi guys…*, jadi terusik untuk nulis rada serius kali ini…
Cerita-nya… sekitar sebulan yang lalu, Cerita tentang Puri jadi topik yang sangat heboh di Kompasiana. Jadi ada di “rumah virtual” itu, ada seseorang yg memiliki account bernama “Puri” dan memiliki blog.
Puri ini masih berstatus mahasiswa. Masih muda kan artinya ?! Dan, dia memiliki blog yang menceritakan kehidupan dia sehari-hari bersama sahabat baru-nya, yaitu penyakit kanker.
Ada sekitar 4-5 posting yang dia tulis tentang penyakitnya, tentang bagaimana dia menyikapinya, tentang keluarganya… Sampai akhirnya dia diberitakan meninggal melalui sms yang dikirim melalui sesama penghuni Kompasiana.
Blog-nya dalam waktu singkat (dengan postingan belum mencapai 10 postingan bisa dibilang singkat kan ?), menuai banyak simpati dari pengunjung maupun sesama penulis di Kompasiana.
Salah satunya, adalah Tiwi sebagai pengunjung tetap 
Membaca postingannya membuat saya merasa banyak-banyak bersyukur karena diberi nikmat sehat yang luar biasa oleh Allah. Dan juga merasa sedih karena anak seusia itu sudah harus merasakan sakitnya “kanker” yang katanya “luar biasa”, juga merasa lega karena pada akhirnya dia meninggal, yang artinya nggak lagi kesakitan, tho ?!
Selama mengikuti tulisannya, tiwi teringat seorang teman sekolah yang juga sedang berjuang melawan kanker-nya dengan semangat yang luar biasa *hai, Sar ! cepet sembuh yaa !*
Belakangan, diketahui bahwa tokoh “Puri” yang selama ini menuliskan kisah-kisah itu adalah rekaan semata. Ditulis oleh orang (atau banyak ?) yang sedang mengikuti perlombaan “Daun Muda” *kenapa yaa nama perlombaannya juga aneh gitu ?
*
Bisa dibayangkan marah-nya para simpatisan kisah “Puri” tersebut nggak ?! Betapa merasa tertipunya kami semua… Oleh seseorang yang bahkan mungkin sudah dianggap sebagai “saudara baru”.
Tapi apakah benar kami pantas untuk marah ?! Toh “Puri” tidak pernah mengemis apa-apa selama menuliskan postingannya.
Memikirkan apakah layak atau tidak kami semua marah dengan cerita rekaan tersebut, Tiwi membayangkan kondisi saat tsunami Aceh tahun 2005 dulu. Dulu (sampai sekarang juga sih) bergabung dalam komunitas Blogfam. Saat tsunami itu, kami mengetahui bahwa salah seorang anggota keluarga Blogfam juga turut menjadi korbannya.
Begitu mengetahui hal tersebut, dalam waktu sangat singkat, kami bersama-sama menggalang sumbangan dana. Tidak tanggung-tanggung, karena kami adalah komunitas berbasis dunia maya yang letaknya ada hampir di seluruh dunia, transferan langsung masuk dari mana-mana… Nyaris tanpa pertanyaan, nyaris tanpa praduga apapun.
Saat sudah terkumpul cukup banyak, kami langsung saat itu juga mentransfer ke rekening tabungan teman kami yang berada di sana untuk digunakan pindah saat itu juga ke Pulau Jawa.
Benang merahnya adalah…
Apakah saat itu kami sudah pernah bertemu dengan teman kami yang berada di Aceh tersebut ? Belum.
Apakah kami melakukan cross-check sebelumnya bahwa benar teman kami terkena bencana itu ? Tidak juga.
Apakah kami melakukan tindakan bodoh ? Untungnya tidak
Sepertinya, iklim bertetangga di dunia maya, dalam kasus seperti ini tiwi persempit menjadi blog dan forum khususnya) memang sudah sedemikian rupa membuat empati lebih cepat terlihat terbangun dibandingkan hidup di dunia nyata. Kenapa ?
Kalo’ kemarin yg terlintas di benak tiwi adalah, emang ada gitu orang jahat yang niat banget menipu, atau membohongi dengan bersusah payah membuat account blog, membuat postingan atau melakukan registrasi ke forum, bersahut-sahutan di dalamnya ?
Ternyata dengan adanya kasus “Puri”, jawabannya : ada tuh ! Hehehehe
Mungkin memang pencipta tokohnya tidak jahat pada awalnya. Tetapi dia salah memanfaatkan komunitas sebesar Kompasiana untuk menciptakan tokoh fiktif yang memang diniatkan untuk merebut simpati sebagai salah satu syarat untuk mengikuti lomba itu.
Siapapun yang bergabung ke dalam komunitas, apalagi seperti Kompasiana, pasti dengan tujuan yang baik dan memang (mudah-mudahan) merupakan orang baik-baik.
Empati yang terbangun, pun hanya dengan tulisan, di dunia maya saat rentan untuk disalah gunakan. Karena hidup berdampiangan di dunia maya, memang hanya bermodalkan kepercayaan, kan ?!
Bayangkan kalo’ misalnya pencipta karakter tersebut juga memanfaatkan untuk mencari dukungan material berupa pembukaan transferan urunan dana untuk “Puri”. Tiwi yakin hari itu juga saat kabar kematian “Puri” didengar, rekening tersebut akan menerima transferan dari banyak orang yang memang tulus ikut berempati.
Kemarahan banyak orang akan kasus ini memang wajar menurut tiwi. Dimana-mana kebohongan memang tidak akan pernah bisa ditolerir. Apalagi yang berpeluang menjadi sebuah kasus yang berbentuk penipuan material seperti ini…
Tapi apakah kejadian seperti ini akan membunuh empati bertetangga di dunia maya ? Mudah-mudahan tidak yaa… Karena empati biasanya hanya dimiliki oleh orang baik-baik. Dan kalo’ empati hilang perlahan-lahan, tidak enak kalo’ juga harus membayangkan orang baik juga akan berkurang dan bukannya bertambah…
Duh, semoga besok-besok tidak akan ada lagi orang yang memanfaatkan kebaikan orang lain untuk kepentingannya sendiri yaa… Di dunia maya, apalagi di dunia nyata. Amiiinnn…
Recent Comments